di indonesia banyak seniman yang alergi membicarakan politik, padahal mereka sendiri melakukan aktifitas politik setiap harinya bahkan banyak karya yang secara sengaja atau tidak berbau politik. ketidak inginan terpengaruh oleh plitik ini banyak terjadi di masa orde baru yang kemudian menularkannya sampai sekarang.
di bawah ini saya ingin mencoba melihat seberapa besar pengaruh seni atau berapa banyak kesenian di jadikan sebagai media politik untuk media penyadaran rakyat terutama dimasa penjajahan kolonial belanda dan jepang.
sebelum tulisan ini sampai pada itu ada sebuah cerita perdebatan saya waktu masih di kuliah dahulu dengan seorang dosen yang menginginkan seni hanya menjadi penyaji keindahan tanpa embel-embel politik.
dosen saya itu kebetulan mengajar estetika yang dimulai dengan estetika obyektif dan subyektif, lalu kami sampai pada kenyataan bagaimana hubungan seni dengan politik dan apakah perlu kesenian itu berpolitik? dengan akal sempitnya dosen saya tersebut tidak setuju jika kesenian itu berpolitik karena kesenian itu berada di tengah dan tidak memihak pada apapun (alias bebas nialai katanya), waktu itu saya berpikir apakah kesenian harus menjadi seni untuk seni, seperti yang pernah terjadi di francis (di francis aja tesis ini kemudian di berontak dan tidak lagi berlaku). mengapa di indonesia yang sudah sampai pada tahun 2000 an atau abad 21 dosen saya ini masih saja ingin membuat seni untuk seni. dalam hati saya bergumam , ah dasar didikan orde baru (tapi saya juga didikan orde baru), jika berbau politik sedikit sudah alergi.
itu cerita yang terjadi pada saya yang saat masih kuliah di salah satu institusi seni di sumatera barat.
jauh sebelum kejadian yang saya alami bersama dosen saya tersebut, telah terbit sebuah novel modern di hindia belanda (waktu itu belum ada indonesia) dengan judul student hijo karya salah satu bumi putra bernama mas marco, lalu juga hadir novel dengan judul hikayat khadiroen karya semaun. kedua karya ini memiliki semangat politik dan juga semangat pembebasan bumi putra dari tangan penjajah, setelah dua novel yang memiliki semangat pembebasan dan juga bernilai pendidikan politik di dalamnya, kemudian banyak lahir karya-karya baik itu berpa puisi dan juga novel yang berisikan semangat pendidikan politik untuk rakyat yang memiliki nilai nasionalisme.
semangat nasionalisme seni ini kemudian juga mendapat penegasan ketika berlangsung sumpah pemuda, sebuah lagu yang diciptakan wr supratman menjadi lagu kebangsaan sampai hari ini.
kemudian masih ada lagi gerakan kesenian yang kental dengan nuansa politis yaitu lahirnya sebuah persatuan gambar pertama di indonesia, kelompok ini berkecimpung dalam gerakan rakyat untuk kemerdekaan indonesia bahkan dengan menegaskan posisi mereka terhadap kesenian yang berbau kolonial dan juga kebijakan kolonial, kelompok seringkali menyindir para perupa indonesia yang hanya membuat karya berbau keindahan alam dengan sebuatan indie moy (hindia elok), karena menurut mereka indonesia tidak hanya keelokan alamnya namun ada penjajahan yang terjadi didalamnya.
bergerak pada dekade berikutnya, sebelum kemerdekaan benar-benar kita dapatkan (kemerdekaan berdasarkan faktor dalam dan luar), kesenian menajdi media yang sangat efektif untuk membangkitkan kesadaran dan keingnan rakyat untuk berjuang bersama mengusir penjajah, sebagai contoh sajka-sajak chairil anwar yang terus membakar para pejuang dan rakyat ketika itu, lalu ditambah dengan poster hasil kelincahan tangan afandi hampir setiap saat bisa hadir di gang dan sepanjang jalan.
setelah kemerdekaan datang apakah seni berhenti untuk menajdi media politik dengan berbagai aliran politik yanga da di indonesia?
jawabnya tentu tidak karena masih ada dua kutup yang bersiteru untuk menjadi media penyadaran bagi rakyat, dua kutup ini bernama manikebu dan lekra. manikebu dengan humanisme universalnya dan lekra yang selalu di tuduh menjadi organisasi budaya sayap PKI dengan realisme sosialismenya.
pertarungan itu berakhir ketika peristiwa 1965 yang mebawa banyak korban dan menajdi salahsatu tragedi kemanusian paling besar dalam sejarah bangsa indonesia.
lalu setelah itu masihkah ada kesenian dalam percaturan politik indonesia?
jawabnya masih. pada tuhun 1970an ada sebauh kelompok yang menamakan dirinya gerakan desember hitam yang merukan gabungan dari berbagai keompok seni yang ada di jakarta, bandung, dan yogyakarta. para seniman ini ikut bahu mebahu dalam proses penyadaran politik rakyat yang mereka anggap telah disalah jaankan oleh orde baru. namun yang mereka protes tidak hanya itu melainkan keberadaan seniman yang lebih tua yang hanya tunduk pada rezim.
setelah gerakan ini masih banyak keikutsertaan seni dalam proses politik di inonesia sampai pada hari ini.
saya kembali teringat ketakutan dosen tadi terhadap banyaknya pengaruh politik dalam seni, merupakan ketakutan yang sedikit tidak melihat sejarah seni di indonesia bahkan dunia, karena kesenian hadir beriring dengan kondisi realitas yang ada dalam masyarakat. jika masyarakatnya banyak melakukan kasak-kusuk politik ini tentunya akan terlihat pula dalam kesenian, karena sejauh apapun semian terpisah dari masyarakat seperti yangbanyak terjadi hari ini dia akan tetap bagian dari masyarakat.
politik seni atau terkaitnya seni dengan politik bukanlah hal baru sejarah perkembangan peradaban telah mencatatnya sebagai bagian yang tidak terlepas dalam arti tidak ada sesuatu yang bebas nilai seperti harapan dosen saya yang mengajarkan estetika seni tersebut.
Ditulis dalam renungan | Tinggalkan sebuah Komentar »
dalam literatur sejarah bangsa indonesia, tercatat bahwa indonesia dijajah belanda selama 3, 5 abad, lalu di tambah dengan penjajahan jepang selama 3, 5 tahun. penghitungan dalam literatur sejarah ini dimulai dengan datangnya belanda dengan armada dan kepentingan dagang yang bernama VOC, yang sesungguhnya diawali oleh datangnya portugal ke malaka, lalu beranjak kearah timur nusantara karena di timurlah tempat benda yang mereka cari dan bernama rempah-rempah. literatur sejarah bahwa indonesia dikatakandijajah selama 3, 5 abad ada benar dan juga memiliki kelemahan, karena para pedagang dari eropa datang pada awalnya tidaklah menggunkaan senjata namun dengan cara berunding tentang perdaganagn dengan kerajaan yang ada di sepanjang nusantara. kesepakatan ini pada prosesnya memang bergerak dan berubah menjadi belanda menguasai sebagian banyak lahan pertanian yang ada dan sebelumnya dikuasai petani dan tuan-tuan tanah yang ada. bergerak dan berubahnya bentuk hubungan ini juga tidak terlepas dari lemahnya kerajaan dan oportunisnya hampir seluruh kerajaan dalam membangun hubungand engan belanda. lemah dan oportunis juga tdiak serta merta terjadi, namun karena banyak dan tajamnya konflik yang ada dalam kerajaanlah yang membuat penguasa membuat perjanjian yang s sungguhnya juga merugikan mereka dengan belanda dengan catatan mereka mendapatkan perlindungan dari belanda. sikap ingin aman dari pemberontakan dalam tubuh kerajaan dengan memanggil para pedagang eropa dan tentaranya masuk dalam lingkar konflik ternyta juga menjadi sebuah pertaruhan besar, karena berubah pola hubungan yang awalnya hubungan dagang menajdai hubungan monopoli terhadaps emua kebijakan dalam kerajaan, baik itu politik bahkan pemilihan tanaman pertanian yang akan ditanam oleh para petani diatas tanah mereka.
baiknya tidak lagi perlu saya tuliskan konflik dan bagaiman belanda dengan armadanya menguasai hampir seluruh kerajaan di nusantara walaupun tetap ada riak perlawanan yang juga dapat dikalahkan dengan berbagai cara. tulisan renungan ini lebih baik menajdia bahan refleksis aya bagaimana para bumi putra mampu bangkit dan mulai menanamkan semangat yang bisa dilakukan bersama untuk mengusir kolonialisme yang sudah lama bercokol di nusantara. secara negara hari kebangkitan nasional ditetapkan dengan berdirinya sebuah perkumpulan terpelajar bumi putra yang bernama budi utomo, di sebuah sekolah kedokteran bernama stovia yangs ekarang berada di salemba dan menajdi fakultas kedokteran UI. perkumpulan ini adalah perkumpulan para calon dokter jawa yang menadapatkan hak pendidikan dan hampir seluruh siswa berlatar belakang dari orang tua yang bekerja pada pemerintahan belanda.
sedikit mundur dari terbentuknya organisasi terpelajar di sekolah dokter tersebut, sebelum diperbolehkanya para bumi putra untuk mendapatkan pendidikan yang layak, sebuah kemenangan telah terjadi diparleman delanda dimana partai sosial demokrat memenangkan pemilu parleman belanda yang memaksa pengausa belanda waktu itu untuk membuat semacam program politik balas budi kepada bangsa indonesia yang telah banyak menyumbang untuk pembangunan negeri belanda, terutama untuk pembangun kota-kota di negri tersebut. usulan para politisi partai sosial demokrat itupun kemudian mulai dilaksanakan dengan ada iga sektor paling penting untuk dijalankan, yang pertama adalah, irigasi (pengairan), edukasi (pendidikan), lalu ada transmigrasi (perpindahan penduduk dari tempat yang padat ketempat yang jarang penduduknya).
tulisan ini akan saya sambung nanti malam…..
Ditulis dalam renungan | Tinggalkan sebuah Komentar »
oleh jakfar
ibuku bilang aku terlahir pada tanggal 25 mei 27 tahun yang lalu, sebelum azan subuh berkumandang, dan dia bilang sangat gembira setelah aku lahir dengan selamat, lalu tangisan pertamaku menjadi penanda bahwa aku kelak akan bisa bersuara, sejelek apapun suara itu, lalu kakekku yang seorang islam memberiku nama yang dia comot dari nama seorang arab, yang jika pada waktu itu aku bisa protes maka aku akan protes dan lebih memilih nama dengan nuansa indonesia, namun aku hanya seorang bayi merah yang tidak memiliki kekuasaan atas diriku, namun membutuhkan kekuasaan yang bisa menumpahkan kasih sayang padaku.
layaknya nama yang diberikan tentu memiliki makna dan keinginan yang terpendam di dalamnya besar atau kecil makna nama itu tergantung bagaimana perjalanan berikutnya, begitu kakekku bilang jauh sebelum dia meninggal.
masa kecil yang berpindah dan selalu menarik untuk diingat.
sampai aku kelas 6 sd telah banyak tempat yang aku kunjungi dan menjadi tempat hidup bahkan tempat susah dan bahagia aku dapatkan. sampai akhirnya disebuah desa baru yang dibangun oleh soeharto di sudut daerah jambi aku tumbuh mendekati masa remaja dengan berbagai persoalan kemiskinan yang seolah menjadi teman akrab dalam perjalanan hidupku. baiknya aku bercerita dahulu tentang kesusahan yang pernah aku alami sebelum akhirnya aku terlempar jauh ketanah kerajaan melayu jambi.
yang aku ingat perpindahan yang mengesankan dan perkelahian masa kecil.
pada kelas 3 sd di sudut sumatera barat, ayahku tiba-tiba menjual rumah tempat aku lahir pada hal baru 3 tahun aku kembali kerumah kelahiran setelah dibawa merantau ke tanah batak dan juga tanah melayu deli bernama kota medan. tiga tahun yang panjang itu memberikan banyak pengalaman bagiku karena secara tidak langsung aku kembali belajar bahasa ibu yang tidak aku kenal sejak lahir sebab waktu tinggal di tanah batak dan melayu di medan bahasa setiap hari yang dipergunakan di rumah adalah bahasa indonesia dengan logat medan. tiga tahun di sudut sumatera barat, membuat aku dekat sekali dengan masyarakat tani yang merupakan budaya dan corak produksi asli masyarakat indonesia, yang pada akhir masa kolonial bergerak kearah corak industri namun tetap mengandalkan basis pertanian sebagai basis paling utamanya.
pindah tempat mencari hidup dan meneruskan tarikan nafas ternyata tidaklah menghilangkan atau menjauhkan aku dari corak asli masyarakat indonesia tersebut, sebab tanah riau ketika pertama kali aku datang masih berupa belantara dan orang hidup dari pertanian serta sunagai yang besar, karena sungai tidka pernah minta dirawat namun tetap memberikan hasil. di tepian sungai rokan kiri ayahku memulai kehidupan kami setelah pindah dari pasaman. bertani adalah pilihan pertamanya untuk memnuhi kebutuhan hidup, lalu ayahku juga menarik becak di pasar ujung batu untuk memenuhi kebutuhan lainya, bahkan ayahku pernah menjadi pencari pasir di sungai rokan kiri namun karena harus mengayuh sampan dan menyelam akhirnya ayahku hanya fokus pada pertanian dan becak yang dulu dimilikinya telah terjual.
di tempat ini kenakalanku meningkat dan nilai raport sekolahku anjlok karena harus menyesuaikan bahasa yang tidak aku pahami sebelumnya, di tempat baru ini aku juga hampir setiap hari berkelahi pada hal ketka tinggal di sumatera barat aku jarangs eklai berkelahi kecuali dengan seoranga anak yang hari ini aku tahu telah meninggal. berkelahi menjadi sebuah kebiasaan karena aku telah menjadi anak nakal dan setiap hari hanya bermain di tepian suangai besar untuk berenanag dan mencari udang.
aku lompat jauh kedepan dan melewatkan banyak tempat yang memiliki sejarah bagiku dan suatu saat akan aku kunjungi.
semester tiga kuliah di sebuah kota kecil padangpanjang. ayahku tiba-tiba menelpon dan bilang tidak lagi bisa untuk mengirim uang kuliah. akus ampaikan hal itu pda teman-teman yang biasa berdiskusi msalah kemiskinan denganku (waktu itu ada sebuah kelompok diskusi yang kita buat bernama AKAR) lalu mereka menawarkan sebuah solusi untuk tetap kuliah dan memenuhi hidup dengan cara hidup saling memenuhi, dan samapi sekarang aku memiliki utang besar terhadap banyak kawan tersebut, karena mereka mengajarkan bagaimana melawanan kemiskinan yang dibuat oleh negara dan rakyat yang didalamnya terdapat aku dan banyak lagi telah termiskinkan dengan sangat rapi, bahkan akdang kala menganggap ini sebuah takdir, lalu aku berpikir bahwa takdir historis orang miskin jugalah untuk merubah keadaan, karena tidak ada kelas yang dengan rela menyerahkan sebagian kekuasaan dan miliknya pad akelas lain, dengan kesadaran itu aku menjadi lebih percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, namun tentunya tetap memiliki syarat untuk melaksanakannya….. (bersambung)…
Ditulis dalam renungan | Tinggalkan sebuah Komentar »
oleh: jakfar
waktu di SD dalu ada sebuah mata pelajaran yang disampaikan oleh guru bahwa indonesia dilalui oleh dua musim. musim pertama adalah musim hujan dan kedua adalah musim kemarau. pada waktu itu saya merasa biasa-biasa saja dengan adanya dua musim tersebut, bahkan ketika guru saya memperbandingkan dengan belahan utara bumi yang dilalaui sampai 4 musim dan membuat mereka sulit keluar jika sedang musim dingin.
negri kita berada di garis khatulistiwa berarti di tengah agris bumi, begitu dia menyampaikan. dan banyak negri lain yang iri dengan negri kita kedua musim itu merupakan musim yang baik untuk bertani dan juga mencari ikan di laut, guru saya itu menambahkan.
jauh setelah itu, ketika umur saya lewat sedikit dari seperempat abad, saya kembali teringat akan musim yang ada di negri ini. apakah ini sebuah keuntungan atau malah kerugian? (sudah seperti pedagang saja karena menghitung untuk dan rugi). keteringatan ini bukan karena ingatan saya yang baik dan karena saya cerdas, tetapi karena ada gejala alam yang membuat saya teringat. setelah hijrah dan menjadi bagian dari kota yang paling besar di inodnesia (jakarta), yang setiap hari jalan dan sampai pada lorong-lorong pemukiman yang oleh pemerintah dianggap tidak layak dan ilegal (dulu saya berpikir yang ilegal itu hanya barang dari luar negri saja), barulah saya merasakan akibat dari dua musim yang dilalui ini.
dua musim yang menarik untuk dilihat dan kembali dicermati setelah lama berlalu dari ruang belajar. musim hujan yang berlangsung kurang lebih dari empat bulan. empat bulan yang menarik juga untuk dilalui dengans egala pernak-pernik mampu mencampuradukan pikiran, perasaan dan sampai emosi. asumsi saya bukan hanya yang bercampur baur itu tetapi hampir seluruh orang yang tinggal di jakarta.
menikmati jakarta setelah hujan reda, merupakan sebuah pengalaman yang menguji kesempurnaan kemanusiaan kita dan juga melihat watak asli masyarakat kota indonesia yang selalu terburu-buru dan tingkat individualisme yang sudah melibihi kadar, di tambah lagi sifet egois yang besar. kota jakarta setelah hujan merupakan gambaran nyata dari semua sisi kota dan juga pemikiran masyarakat dari tingkat atas sampai bawah, jika selama ini seringkali yang mendapatkan umpatan atas kekesalan hanyalah pemerintah yang tidak pernah berubah maka, setelah hujan saya sedikit mendapat alasan mengapa selama ini indonesia tidak bisa bergerak pada peradaban yang lebih baik untuk semua komponen
Ditulis dalam celoteh | Tinggalkan sebuah Komentar »
kemacetan di jakarta sudah mencapai taraf parah atau bahkan sulit untuk mencari kata yang tepat untuk kondisi ini walau di dalam kamus. kemacetan jakarta seringkali menjadi alasan untuk sebagian orang ketika terlambat datang ke tempat kerja atau ada janji dengan orang lain.
kemacetan parah ini memiliki banyak akibat diantaranya resiko stres yang sangat tinggi, akan berdampak juga pada kerja, sebagai contoh, setiap pagi orang berangkat dengan berebut jalan tempat lintasan dan masih juga terjebak macet, sehingga ketika sampai di tempat kerja mereka sudah capek secara pisik dan psikologis lalu dipaksakan untuk bekerja maksimal selama 8 jam. sore pulang kerja kembali harus terjebak macet di jalanan, dimana harusnya otak dan tubuh sudah istirahat karena bekerja seharian, lagi-lagi harus berebut jalan. saya tidak mengerti tentang tata kota, tetapi tetap saja terlihat buruk dan terjadi setiap harinya di jakarta, mungkin tidak hanya jakarta yang seperti itu, kota-kota besar lain juga. kemacetan ini tidak hanya karena pilihan tata kota tetapi juga arus masuk kenderaan ke dalam negri dari luar negri.
indonesia memang menjadi salah satu pasar paling potensial dengan jumlah penduduk termasuk yang paling besar di dunia dan tingkat kebutuhan terhadap kenderaan yang tinggi. hal-hal yang membuat masyarakat indonesia sangat membutuhkan kenderaan untuk perjalanan kemanapun tidak terlepas dari kondisi geografis, namun tentunya tidak hanya pengaruh itu saja yang membuat kenderaan buatan luar negri sangat banyak masuk bahkan memunuhi jalanan di indonesia. ada masalah yang lebih dalam, baik secara kultural, politik dan ekonomi.
secara budaya, kenderaan yang melintasi semua sisi jalan di indonesia menjadi pertanda pergeseran watak masyarakat indonesia dari sebuah budaya yang bersama dan memiliki keperdulian menjadi manusia yang individualis bahkan sangat egois, sebagai contohnya mungkin baik jika kita berdiri di sebuah jalan protokol jakarta dan memperhatikan mobil pribadi yang lewat maka kita akan menemukan betapa egoisnya manusia indonesia sekarang, karena sebagian besar mobil itu hanya berisi 1 orang saja dan ada ribuan kenderaan yang melintasi jalan itu. sikap individual ini tentunya tidak tumbuh dengan sendirinya namun ada penyebabnya yang juga berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
berikutnya budaya yang bergerser itu adalah budaya konsumtif atau hanya menjadi pengguna saja tanpa harus letih untuk mencipta. jika pada zaman dahulu manusia indonesia merupakan manusia yang suka berkreasi dengan menciptakan banyak hal maka sekarang akan sulit menjawabnya jika itu masih ada. pergeseran dari mencipta menjadi pengguna berasal dari pengaruh setiap sudut namun yang berperan paling utama tentunya adalah media massa dan juga para produsen dari produk dalam hal ini kenderaan. peran media massa dalam mengubah karakteristik masyarakat terjadi setiap detiknya dnegan banyaknya media massa yang memberikan kemudahan untuk melihat sesuatu dan kemudian ditambah juga dengan kemudahan mencari apa yang dibutuhkan tersebut. kembali pada masalah kenderaan.
suatu kali jika punya kesempatan dan iseng berdirilah ditepi jalan jakarta akan dengan mudah kita sebut bahwa jalanan itu bukan milik mesin buatan indonesia tapi sebagaia besar akan menjadi milik jepang. menyedihkan memang, jika harus membalik lembar sejarah di perpustaakaan.
mengapa menyedihkan?
tanpa harus menutup mata terhadap sebuah peradaban panjang japang yang terlibat pada dua perang dunia, dana sat8-satunya negara asia yang aktif dalam artian menjadi aktor perang dunia pertama dan kedua, tentunya juga tidak harus dilupakan jika pada tahun 1945 kita merdeka dan jepang sedang dalam kondisi paling buruk setelah kalah perang dunia kedua dan diharuskan mengganti rugi dana perang terhadap banyak negara termasuk juga indonesia, namun mereka bisa bangkit dengan cepat, lebih cepat dari kita yang pada tahun 1945 tidak mengalami kehancuran semua bangunan sosial seperti jepang. ini dibuktikan dengan peristiwa pada tahun 1974 dimana mereka telah bisa kembali berada dijajaran elit negara dunia, mereka melakukan ekspor mobil dan mesin keindonesia bahkan memebrikan bantuan hutang, sementara indonesia masih sibuk dnegan mencari format negara yang dapat mewakili semua suku bangsa tetapi malah lama terjebak pada sistem otoriter. tidak perlu membahas keterjebakan dan konspirasi yang membuat sistem otoriter mampu bertahan lama.
mengapa jepang mampu bangkit dengan segera?
watak dan juga budaya masyarakat yang tidak mau hanya menjadi konsumen tanpa mencipta, itulah kuncinya. jepang merupakan negara yang memiliki disiplin tinggi dans emangat nasionalisme, dengan cara mempertahankan hampir semua budaya mereka dari pengaruh besar budaya barat yang lengkap dengan perangkat filsatnya. (bersambung dulu yah)
Ditulis dalam celoteh | Tinggalkan sebuah Komentar »
aktifitas sehari-hariku dalam setahun terakhir ini adalah datang ketempat rakyat miskin kota tinggal dan ngobrol informal dengan mereka tentang banyak hal, namun lebih fokus bagaimana masalah mereka dapat diselesaikan oleh mereka sendiri dan jika tidak maka akan menuntut pertanggung jawaban pemerintah karena rakyat miskin telah membayar pajak.
biasanya obrolan informal ini dimulai dengan santai dan menyampaikan banyak hal dan biasanya akan sampai pada topik yang paling menarik dalam 10 tahun terakhir di indonesia, topik politik. topik ini telah meliarkan dan membri banyak pandangan bahkan analisa ala rakyat miskin kota terhadap perkembangan mereka, ada yang mersa sudah snagat politis karena bergabung dan menjadi salah satu anggota partai tingkat RT, ada yang sudah sangat pesimis akan terjadinya perubahan, karena pemerintah yang katanya sudah tidak lagi memikirkan rakyat (kenyataan yang dirasakan), pada hal pemerintah dipilih oleh rakyat. rasa pesimis ini bahkan sampai diungkapkan dengan kalimat “lebih baik di jaman soeharto”, dengan sedikit tersenyum saya teringat akan perjuangan semua gerakan demokrasi di indonesia yang menuntut soeharto turun atas nama rakyat (sekali lagi pendidikan politik sangat minim pada tingkatan rakyat), sekali lagi saya tersenyum dengan bayangan bagiaman kalau para pejuang demokrasi yang menurunkan soeharto itu mendengar pernyataan rakyat miskin kota (yang saya bayangkan adalah kekecewaan terhadap diri sendiri pada setiap pejuang demokrasi jika mendengar itu).
lebih baik di jaman soeharto (?)
pernyataan sederhana dan terkesan lugu setelah mengalami beberapa pergantian pemerintahan atau ini pernyataan pesimis bahwa negera ini tidak lagi bisa menjadi lebih baik (mungkin lupa sejarah). presiden pertama pernah berteriak lantang untuk semua generasi ketika itu bahwa “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, tentunya jika dalam keadaan frustasipun tidak boleh melupkan karena jika melupakan berarti akan tercerabut dari akarnya dan kehilanag keseimbangan. pernyataan di atas menurut saya adalah pernyataan yang melupakan sejarah, mengapa?
sejarah bangsa ini adalah sejarah yang sangat panjang dengan segala perjuangan untuk terbebas dari berbagai bangsa yang datang untuk menguasai dengan berbagai dalih juga, berdagang, menyiarkan agama bahkan untuk menolong pembangunan. sejarah ini telah dimulai sejak berdirinya kerajaan di sepenajang nusantara sampai hari ini tentunya. kemerdekaan nasional pada tahun 1945 merupakan puncak yang masih harus dipertahankan karena belanda dua kali datang untuk coba kembali merebutnya. datangnya bangsa asing dengan berbagai dalih tentunya karena nusantara memiliki banyak kelebihan yang bisa membuat mereka bertahan hidup bahkan kaya raya.
penjajahan secara pisik sudah tidak lagi terasa setelah tahun 45 namun apakah penjajahan telah selesai? ini mungkin perlu juga menjadi bahan diskusi sampai pada tingkatan rakyat miskin. perlunya menjadi bahan diskusi agar penyataan di atas tidak berdampak pada pemikiran yang melupakan sejarah sehingga mengecilkan mental rakyat.
penjajahan belum selesai, ketika soekarno berteriak ganyang malaysia, itu merupakan bagian dari politik soekarno agar bangsa asing tidak lagi datang ke nusantara, karena waktu itu inggris masih duduk dengan tenang di negara tentangga kita itu. teriakan soekarno tersebut tidaklah berbunyi nyaring karena tidak pernah terlaksananya pilihan tersebut, sampai dijatuh dari kursi presidennya (ada preseden bahwa negara kapitalis juga ikut bermaind engan agen intelejenya). lalu dimulailah masa soeharto. seorang tentara yang pendiam dan wajah yang ramah (selalu senyum pada semua orang namun berdarah dingin). naiknya soeharto tidak terklepas dari sebuah surat sakti yang samapi sekarang sulit untuk kita lihat bahwa surat tersebut benar-benar ada. kenaikan ini dimulai dengan prahara yang menewaskan ratusan ribu orang dengan dalih mereka menganut ajaran marxisme dan leninisme, belasan ribu lainya dibuang kepualau buru untuk bia memperbaiki diri dan bertahan di pulau yang masih muda dan belum sepenuhnya bisa ditinggali.
setelah dilantik oleh MPRS, mulailah pembangunan ala soeharto yang disokong oleh dunia barat menerapkan kebijakan anti kritik sehingga sedikits ekali yang berani melakukan kritik terhadap pilihan pembangunan indonesia dalam seluruh bidang. bidang ekonomi yang lebih memilih statistik untuk ukuran, menggabungkan semua partai sisa rezim soekarno menjadi tiga partai tidak dapat disebut demokratis sebagai bentuk politik, apalagi ketiga partai tersebut berada dalam kendalinya kejadian yang menimpa pdi pada 1996 jadi bukti sejarahnya, dan bukti sejarah yang membuat orang akan menangis serta akan marah karena kehilangan anggota keluarga yang meraka sayangi.
jadi, apakah lebih baik di jaman soeharto?
mari kita lihat kebijakan ekonomi yang berujung krisis parah pada tahun 1997 yang membuat soeharto jatuh. setelah naik menjadi presiden pada tahun 1969, pembangunan dimulai dengan menghutang pada lembaga internasional yang sebelumnya jelas-jelas ditolak soekarno. hutang yang diberikan oleh lembaga internasional yang jelas-jelas berada dibawah negara kapitalis, tentunya tidak mau dengan begitu saja memberi hutang tanpa imbalan, lewat bunga dan juga kebijakan atau bahkan sistem ekonomi yang harus diterapkan oleh rezim yang baru berdiri. pembangunanisme (developmentalisme) menjadi pilihan dimana soeharto memilih perubahan serta merta corak produksi bangsa indonesia yang berabad lamanya, dari sistem pertanian dan maritim menjadi industri. target menajdi industri ini di sokong besar-besaran dengan biaya hutang tadi dan mendirikan infrastruktur banyak, tetapi tidak menyiapkan manusia serta sistem dalam negrinya sehingga bangunan infrastruktur ini tetap lemah. tidak hanya dnegan hutang pembangunan industrialisasi ini juga dilakukan dengan mengundang investor ke indonesia dengan perjanjian yang sangat merugikan bangsa indonesia. ini dapat kita lihat dari perusahan asing yang ada, hanya menjadikan bangsa indonesia sebagai pekerja murah dan menambang hampir setiap jengkal kekayaan yang berada di dalam bumi indonesia.
kondisi ini berlanjut sampai keruntuhan rezim soeharto karena dilanda krisis ekonomi yang berasal dari negara tempat soeharto menghutang. layaknya kehidupan sehari-hari jika orang yang memberikan kita hutang lagi krisis akan berimbas pula pada kita, karena dia akan menagih atau menaikan bunga atau bisa juga dengan membuat hasil hutangannya pada kita tidak berguna, itulah yang terjadi dengan soeharto.
dia turun dengan pernyataan mengundurkan diri, namun menyisakan pekerjaan besar yang akan terus menjadi masalah pada masa berikutnya. harga-harga melambung, phk terjadi dimana-mana karena para investor pergi dengan segala alasan. dan semua yang buruk terjadi hari ini adalah warisan sejarah rezim tersebut, termasuk sebagian besar para politisi yang sekarang masih memimpin dan mengendalikan negara ini. alangkah buruknya jika begitu akibat yang ditinggalkan rezim soeharto, dan jika begitu, apakah lebih baik dizaman soeharto?….(cape deh ngomongin dia terus)
Ditulis dalam celoteh | Tinggalkan sebuah Komentar »
secara jujur tulisan ini merupakan sebuah asumsi bahwa etika memiliki keindahan dan estetika memiliki moral. diluar asumsi tersebut tulisan ini juga sudah lama ingin saya buat untuk melihat bagaimana hasilnya jika dua kutup filsafat disatukan dalam nilai-nilai yang kita jalani sehari-hari, walaupun itu sebenarnya terjadi dengan alamiah dan sudah banyak dilakukan oleh para filsuf namun rasa penasaran tetap memanggil. ketertarikan ini sudah lama sekali saya miliki sejak masih duduk di bangku kuliah yang seringkali membicarakan estetika, dan secara jujur jarang sekali membicarakan etika, karena saat masih kuliah saya sangat tidak percaya dengan moral yang dibuat-buat dan menganggap itu hasil dari peradaban kaum feodal yang memiliki kepentingan untuk menjaga tanah dan kedudukan politik mereka, namun tulisan itu tidak pernah ada sampai akhirnya saya menonton infotainment di sebuah televisi swasta yang menayangkan tentang pencekalan sorang penyanyi dangdut di sebuah kota yang bisa disebut telah menjadi kota metropolis dengan masyarakat yang majemuk.
dalam tayangan infotaiment tersebuat memang banyak pendapat dengan berbagai sudut pandang masing-masing ditambah dengan adanya pernyataan “bahwa semua orang bebas berkreatifitas” dan bahwa etika itu menjadi sebuah nilai yang relatif . kretaifitas yang saya pahami erat hubunganya dengan pengalaman dan pengetahuan yang kemudian ditambah dengan intuisi yang baik. tiga hal ini kemudian akan bisa melahirkan sebuah karya seni yang mempesona bagi para penikmat seni (ini dalam ranah estetika), lalu bagaimana dengan etika. etika yang saya pahami adalah nilai yang disepakati oleh kumpulan masyarakat untuk diterapkan secara bersama. etika berubah setelah berdirinya negara modern etika dimana etika menjadi bagian dari urusan negara, sehingga kadangkala tidak lagi berdasarkan kesepakatan atau pemahaman masyarakat yang akan menjalankanya, tetapi dikerjakan sekelopok orang atau elit yang kemudian diujicobakan ketengah masyarakat. ini menjadi sebuah kesalahan negara modern karena masuk dan mencipta nilai yang dipaksakan untuk dilaksanakan masyarakat luas yang sebelumnya telah memiliki nilai-nilai yang disepakati.
berikutnya dalam kehidupan sehari-hari seringkali terucap dari kita bahwa etika dan estetika itu memiliki nilai “relatif” (tergantung bagaimana melihat dan memahami), bukankah ini sebuah ketakutan untuk membuat hukum tentang moral dan keindahan sendiri yang tidak memiliki nilai ambigu. ambiguitas ini telah membuat hukum obyektif dan subyektif menjadi terpinggirkan, padahal menurut saya etika dan estetika berada di dua hukum tersebut, dan jika kita memakai hukum realtifitas tetap bagi saya ini adalah sebuah ketakutan semata untuk menjelaskan posisi kita untuk berada dimana. relatifitas ini tidak akan panjang saya tuliskan karena saya juga tidak memiliki banyak bahan untuk hal tersebut yang biasanya menjadi bahasa pelarian.
contoh kasus tayangan infotaiment tersebut di atas juga pernah menjadi trend bagi saya dan teman-teman saya yang merasa dirinya liar, lalu berpikir untuk berkreatifitas tidak butuh batasan dan setiap orang bebas melakukan apa yang dia inginkan, namun itu dulu ketika saya masih sangat mengagungkan kebebasan yang jika saya ingat menjadi lucu sendiri, karena di negara paling liberalpun masih ada batasan kreatifitas, jika hal itu dianggap menggangu kepentingan publik yang lebih luas daripada individu… (bersambung)
Ditulis dalam celoteh | Tinggalkan sebuah Komentar »
oleh: jakfar
satu bulan berada di desa sekitar pegunungan magelang telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya, tentang pola dan kehidupan masyarakat desa yang saya kunjungi, dan tentunya bukan hal yang dapat digeneralkan bahwa semua desa menjalankan hal yang sama pola kehidupannya. karena setiap tempat memiliki ciri dan pola sendiri, seperti kata pepatah “lain ladang lain ilalang”
tiga desa saya kunjungi dalam waktu sebulan dimana setiap desa memiliki ciri masing-masing, namun tulisan ini bukanlah untuk melihat ciri tersebut malinkan untuk melihat persamaan yang terdapat pada tiga desa yang saya kunjungi tersebut. persamaan ini lahir bukan sebuah ketidak sengajaan atau dominasi faktor internal melainkan dominasi faktor eksternal dan sebuah kesengajaan, yaitu datang dari luar mereka yang kemudian disesakan hampir setiap menitnya kedalam ruang-ruang keluar dan juga ruang-ruang publik pedesaan.
hal yang didesakan ini adalah hasil perjalanan sebuah pekerjaan keratifitas orang yang tinggal di perkotaan dengans egala embel-embel teknologi lalu di sebar untuk semua orang (orang desa dan kota), melalui media elektronik yang setiap saat bisa menyala dan menayangkanya. tayangan media elektronik tersebut kemudian diberi nama lebih spesifik lagi dengan sebutan sinema elektronik atau seringkali disingkat sinetron. sinetron inilah yang membuat persamaan pada masyarakat desa yang saya datangi dan hidup beberapa hari bersama mereka.
dimana letak persamaan itu?
persamaan ketiga desa ini adalah bergersernya ruang bersama yang aktif untuk membangun kerukunan dan kekerabatan pada masa sebelum mereka mengenal sinetron, menjadi ruang individu yang hidup di dalam rumah dan menjadi pasif dengan menjadi penonton kotak yang mengeluarkan warna, gambar dan suara. pergerseran ini sadar atau tidak sadar telah terjadi dengan kurang ruangnya pertemuan bersama yang biasa digunakan untuk membahas banyak persoalan dan juga biasanya akan mendapatkan banyak pemecahan karena hampir semua orang akan memberikan pandangan. masalah-masalah yang dibahas pada ruang bersama itu terutama dengan masalah sehari-hari yang mereka hadapi, seperti; masalah pertanian, lalu masalah sosial yang mereka hadapi secara bersama bahkan sampai masalah politik yang mereka bicarakan secara terbuka. setelah mengenal sinetron masyarakat berbergerak kearah yang lebih individual dimana tidak lagi semua masalah dbahas secara bersama melainkan setiap orang sudah berusaha membahs maslahnya sendiri dan jika tidak terselesaikan barulah berusaha meminta tolong pada kerabatnya.
apa yang ditawarkan sinetron sehingga bisa merusak tatanan tradisi yang sebelumnya mengikat masyarakat desa?
sinetron menawarkan sebuah bentuk dunia baru didapatkan melalui imajinasi para pemeran dan gambar yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh masyarakat desa. tawaran ini juga tidak hanya datang lalu diterima oleh masyarakat yang sebelumnya telah memiliki nilai-nilai sendiri. sinetron hadir dari pagi sampai larut malam yang membuat orang mau tidak mau harus melihatnya karena tidak memiliki banyak alternatif. kondisi ini bisa kitasebut sebagai baha laten yang seringkali telah memaksa kita untuk memilih satu-satunya yang disodorkan oleh sistem di luar diri kita dan hampir semua masyarakat menjalani pilihan itu.
dunia baru tawaran dari sinetron ini dengan cepat bisa memmepngaruhi karena ada beberapa hal yang membuat masyarakat mau menerima tanpa perlawanan budaya yang berarti, yaitu;
1. kejenuhan terhadap pola kehidupan yang bisa dikatakan monoton. pola hidup ini berhubungan dengan pekerjaan dan relasi sosial (namun aneh jika didesa juga ada sebab ini), yang bisa di katakan tidak mengalami pasang surut.
2. sifat dasar manusia yang ingin melihat adanya hitam dan putih kehidupan inilah yang dimanfaatkan para kreator sinetron, dimana secara nyata sinetron memberikan gambaran benar dan salah seolah-olah berdiri sendiri, masyarakat berdiri pada posisi ingin berada dan membela yang benar.
3. keinginan untuk keluar dari realitas sehari-hari dan ingin mengalami realitas impian. keinginan keluar erat hubungannya dengan kondisi ekonomi dan sosial politik yang terus mengalami pasang surut, sebagai catatan indonesia masih dalam proses tranformasi demokrasi dari rezim dan perangkat yang otoriter menuju negara demokrasi yang perangkatnya tidak banyak mengalami perubahan. keinginan keluar ini kemudian ditambah dengan hadirnay relaitas impian dalam sinetron. (bersambung)…
Ditulis dalam celoteh | Tinggalkan sebuah Komentar »



