oleh: jakfar
satu bulan berada di desa sekitar pegunungan magelang telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya, tentang pola dan kehidupan masyarakat desa yang saya kunjungi, dan tentunya bukan hal yang dapat digeneralkan bahwa semua desa menjalankan hal yang sama pola kehidupannya. karena setiap tempat memiliki ciri dan pola sendiri, seperti kata pepatah “lain ladang lain ilalang”
tiga desa saya kunjungi dalam waktu sebulan dimana setiap desa memiliki ciri masing-masing, namun tulisan ini bukanlah untuk melihat ciri tersebut malinkan untuk melihat persamaan yang terdapat pada tiga desa yang saya kunjungi tersebut. persamaan ini lahir bukan sebuah ketidak sengajaan atau dominasi faktor internal melainkan dominasi faktor eksternal dan sebuah kesengajaan, yaitu datang dari luar mereka yang kemudian disesakan hampir setiap menitnya kedalam ruang-ruang keluar dan juga ruang-ruang publik pedesaan.
hal yang didesakan ini adalah hasil perjalanan sebuah pekerjaan keratifitas orang yang tinggal di perkotaan dengans egala embel-embel teknologi lalu di sebar untuk semua orang (orang desa dan kota), melalui media elektronik yang setiap saat bisa menyala dan menayangkanya. tayangan media elektronik tersebut kemudian diberi nama lebih spesifik lagi dengan sebutan sinema elektronik atau seringkali disingkat sinetron. sinetron inilah yang membuat persamaan pada masyarakat desa yang saya datangi dan hidup beberapa hari bersama mereka.
dimana letak persamaan itu?
persamaan ketiga desa ini adalah bergersernya ruang bersama yang aktif untuk membangun kerukunan dan kekerabatan pada masa sebelum mereka mengenal sinetron, menjadi ruang individu yang hidup di dalam rumah dan menjadi pasif dengan menjadi penonton kotak yang mengeluarkan warna, gambar dan suara. pergerseran ini sadar atau tidak sadar telah terjadi dengan kurang ruangnya pertemuan bersama yang biasa digunakan untuk membahas banyak persoalan dan juga biasanya akan mendapatkan banyak pemecahan karena hampir semua orang akan memberikan pandangan. masalah-masalah yang dibahas pada ruang bersama itu terutama dengan masalah sehari-hari yang mereka hadapi, seperti; masalah pertanian, lalu masalah sosial yang mereka hadapi secara bersama bahkan sampai masalah politik yang mereka bicarakan secara terbuka. setelah mengenal sinetron masyarakat berbergerak kearah yang lebih individual dimana tidak lagi semua masalah dbahas secara bersama melainkan setiap orang sudah berusaha membahs maslahnya sendiri dan jika tidak terselesaikan barulah berusaha meminta tolong pada kerabatnya.
apa yang ditawarkan sinetron sehingga bisa merusak tatanan tradisi yang sebelumnya mengikat masyarakat desa?
sinetron menawarkan sebuah bentuk dunia baru didapatkan melalui imajinasi para pemeran dan gambar yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh masyarakat desa. tawaran ini juga tidak hanya datang lalu diterima oleh masyarakat yang sebelumnya telah memiliki nilai-nilai sendiri. sinetron hadir dari pagi sampai larut malam yang membuat orang mau tidak mau harus melihatnya karena tidak memiliki banyak alternatif. kondisi ini bisa kitasebut sebagai baha laten yang seringkali telah memaksa kita untuk memilih satu-satunya yang disodorkan oleh sistem di luar diri kita dan hampir semua masyarakat menjalani pilihan itu.
dunia baru tawaran dari sinetron ini dengan cepat bisa memmepngaruhi karena ada beberapa hal yang membuat masyarakat mau menerima tanpa perlawanan budaya yang berarti, yaitu;
1. kejenuhan terhadap pola kehidupan yang bisa dikatakan monoton. pola hidup ini berhubungan dengan pekerjaan dan relasi sosial (namun aneh jika didesa juga ada sebab ini), yang bisa di katakan tidak mengalami pasang surut.
2. sifat dasar manusia yang ingin melihat adanya hitam dan putih kehidupan inilah yang dimanfaatkan para kreator sinetron, dimana secara nyata sinetron memberikan gambaran benar dan salah seolah-olah berdiri sendiri, masyarakat berdiri pada posisi ingin berada dan membela yang benar.
3. keinginan untuk keluar dari realitas sehari-hari dan ingin mengalami realitas impian. keinginan keluar erat hubungannya dengan kondisi ekonomi dan sosial politik yang terus mengalami pasang surut, sebagai catatan indonesia masih dalam proses tranformasi demokrasi dari rezim dan perangkat yang otoriter menuju negara demokrasi yang perangkatnya tidak banyak mengalami perubahan. keinginan keluar ini kemudian ditambah dengan hadirnay relaitas impian dalam sinetron. (bersambung)…