secara jujur tulisan ini merupakan sebuah asumsi bahwa etika memiliki keindahan dan estetika memiliki moral. diluar asumsi tersebut tulisan ini juga sudah lama ingin saya buat untuk melihat bagaimana hasilnya jika dua kutup filsafat disatukan dalam nilai-nilai yang kita jalani sehari-hari, walaupun itu sebenarnya terjadi dengan alamiah dan sudah banyak dilakukan oleh para filsuf namun rasa penasaran tetap memanggil. ketertarikan ini sudah lama sekali saya miliki sejak masih duduk di bangku kuliah yang seringkali membicarakan estetika, dan secara jujur jarang sekali membicarakan etika, karena saat masih kuliah saya sangat tidak percaya dengan moral yang dibuat-buat dan menganggap itu hasil dari peradaban kaum feodal yang memiliki kepentingan untuk menjaga tanah dan kedudukan politik mereka, namun tulisan itu tidak pernah ada sampai akhirnya saya menonton infotainment di sebuah televisi swasta yang menayangkan tentang pencekalan sorang penyanyi dangdut di sebuah kota yang bisa disebut telah menjadi kota metropolis dengan masyarakat yang majemuk.
dalam tayangan infotaiment tersebuat memang banyak pendapat dengan berbagai sudut pandang masing-masing ditambah dengan adanya pernyataan “bahwa semua orang bebas berkreatifitas” dan bahwa etika itu menjadi sebuah nilai yang relatif . kretaifitas yang saya pahami erat hubunganya dengan pengalaman dan pengetahuan yang kemudian ditambah dengan intuisi yang baik. tiga hal ini kemudian akan bisa melahirkan sebuah karya seni yang mempesona bagi para penikmat seni (ini dalam ranah estetika), lalu bagaimana dengan etika. etika yang saya pahami adalah nilai yang disepakati oleh kumpulan masyarakat untuk diterapkan secara bersama. etika berubah setelah berdirinya negara modern etika dimana etika menjadi bagian dari urusan negara, sehingga kadangkala tidak lagi berdasarkan kesepakatan atau pemahaman masyarakat yang akan menjalankanya, tetapi dikerjakan sekelopok orang atau elit yang kemudian diujicobakan ketengah masyarakat. ini menjadi sebuah kesalahan negara modern karena masuk dan mencipta nilai yang dipaksakan untuk dilaksanakan masyarakat luas yang sebelumnya telah memiliki nilai-nilai yang disepakati.
berikutnya dalam kehidupan sehari-hari seringkali terucap dari kita bahwa etika dan estetika itu memiliki nilai “relatif” (tergantung bagaimana melihat dan memahami), bukankah ini sebuah ketakutan untuk membuat hukum tentang moral dan keindahan sendiri yang tidak memiliki nilai ambigu. ambiguitas ini telah membuat hukum obyektif dan subyektif menjadi terpinggirkan, padahal menurut saya etika dan estetika berada di dua hukum tersebut, dan jika kita memakai hukum realtifitas tetap bagi saya ini adalah sebuah ketakutan semata untuk menjelaskan posisi kita untuk berada dimana. relatifitas ini tidak akan panjang saya tuliskan karena saya juga tidak memiliki banyak bahan untuk hal tersebut yang biasanya menjadi bahasa pelarian.
contoh kasus tayangan infotaiment tersebut di atas juga pernah menjadi trend bagi saya dan teman-teman saya yang merasa dirinya liar, lalu berpikir untuk berkreatifitas tidak butuh batasan dan setiap orang bebas melakukan apa yang dia inginkan, namun itu dulu ketika saya masih sangat mengagungkan kebebasan yang jika saya ingat menjadi lucu sendiri, karena di negara paling liberalpun masih ada batasan kreatifitas, jika hal itu dianggap menggangu kepentingan publik yang lebih luas daripada individu… (bersambung)