aktifitas sehari-hariku dalam setahun terakhir ini adalah datang ketempat rakyat miskin kota tinggal dan ngobrol informal dengan mereka tentang banyak hal, namun lebih fokus bagaimana masalah mereka dapat diselesaikan oleh mereka sendiri dan jika tidak maka akan menuntut pertanggung jawaban pemerintah karena rakyat miskin telah membayar pajak.
biasanya obrolan informal ini dimulai dengan santai dan menyampaikan banyak hal dan biasanya akan sampai pada topik yang paling menarik dalam 10 tahun terakhir di indonesia, topik politik. topik ini telah meliarkan dan membri banyak pandangan bahkan analisa ala rakyat miskin kota terhadap perkembangan mereka, ada yang mersa sudah snagat politis karena bergabung dan menjadi salah satu anggota partai tingkat RT, ada yang sudah sangat pesimis akan terjadinya perubahan, karena pemerintah yang katanya sudah tidak lagi memikirkan rakyat (kenyataan yang dirasakan), pada hal pemerintah dipilih oleh rakyat. rasa pesimis ini bahkan sampai diungkapkan dengan kalimat “lebih baik di jaman soeharto”, dengan sedikit tersenyum saya teringat akan perjuangan semua gerakan demokrasi di indonesia yang menuntut soeharto turun atas nama rakyat (sekali lagi pendidikan politik sangat minim pada tingkatan rakyat), sekali lagi saya tersenyum dengan bayangan bagiaman kalau para pejuang demokrasi yang menurunkan soeharto itu mendengar pernyataan rakyat miskin kota (yang saya bayangkan adalah kekecewaan terhadap diri sendiri pada setiap pejuang demokrasi jika mendengar itu).
lebih baik di jaman soeharto (?)
pernyataan sederhana dan terkesan lugu setelah mengalami beberapa pergantian pemerintahan atau ini pernyataan pesimis bahwa negera ini tidak lagi bisa menjadi lebih baik (mungkin lupa sejarah). presiden pertama pernah berteriak lantang untuk semua generasi ketika itu bahwa “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, tentunya jika dalam keadaan frustasipun tidak boleh melupkan karena jika melupakan berarti akan tercerabut dari akarnya dan kehilanag keseimbangan. pernyataan di atas menurut saya adalah pernyataan yang melupakan sejarah, mengapa?
sejarah bangsa ini adalah sejarah yang sangat panjang dengan segala perjuangan untuk terbebas dari berbagai bangsa yang datang untuk menguasai dengan berbagai dalih juga, berdagang, menyiarkan agama bahkan untuk menolong pembangunan. sejarah ini telah dimulai sejak berdirinya kerajaan di sepenajang nusantara sampai hari ini tentunya. kemerdekaan nasional pada tahun 1945 merupakan puncak yang masih harus dipertahankan karena belanda dua kali datang untuk coba kembali merebutnya. datangnya bangsa asing dengan berbagai dalih tentunya karena nusantara memiliki banyak kelebihan yang bisa membuat mereka bertahan hidup bahkan kaya raya.
penjajahan secara pisik sudah tidak lagi terasa setelah tahun 45 namun apakah penjajahan telah selesai? ini mungkin perlu juga menjadi bahan diskusi sampai pada tingkatan rakyat miskin. perlunya menjadi bahan diskusi agar penyataan di atas tidak berdampak pada pemikiran yang melupakan sejarah sehingga mengecilkan mental rakyat.
penjajahan belum selesai, ketika soekarno berteriak ganyang malaysia, itu merupakan bagian dari politik soekarno agar bangsa asing tidak lagi datang ke nusantara, karena waktu itu inggris masih duduk dengan tenang di negara tentangga kita itu. teriakan soekarno tersebut tidaklah berbunyi nyaring karena tidak pernah terlaksananya pilihan tersebut, sampai dijatuh dari kursi presidennya (ada preseden bahwa negara kapitalis juga ikut bermaind engan agen intelejenya). lalu dimulailah masa soeharto. seorang tentara yang pendiam dan wajah yang ramah (selalu senyum pada semua orang namun berdarah dingin). naiknya soeharto tidak terklepas dari sebuah surat sakti yang samapi sekarang sulit untuk kita lihat bahwa surat tersebut benar-benar ada. kenaikan ini dimulai dengan prahara yang menewaskan ratusan ribu orang dengan dalih mereka menganut ajaran marxisme dan leninisme, belasan ribu lainya dibuang kepualau buru untuk bia memperbaiki diri dan bertahan di pulau yang masih muda dan belum sepenuhnya bisa ditinggali.
setelah dilantik oleh MPRS, mulailah pembangunan ala soeharto yang disokong oleh dunia barat menerapkan kebijakan anti kritik sehingga sedikits ekali yang berani melakukan kritik terhadap pilihan pembangunan indonesia dalam seluruh bidang. bidang ekonomi yang lebih memilih statistik untuk ukuran, menggabungkan semua partai sisa rezim soekarno menjadi tiga partai tidak dapat disebut demokratis sebagai bentuk politik, apalagi ketiga partai tersebut berada dalam kendalinya kejadian yang menimpa pdi pada 1996 jadi bukti sejarahnya, dan bukti sejarah yang membuat orang akan menangis serta akan marah karena kehilangan anggota keluarga yang meraka sayangi.
jadi, apakah lebih baik di jaman soeharto?
mari kita lihat kebijakan ekonomi yang berujung krisis parah pada tahun 1997 yang membuat soeharto jatuh. setelah naik menjadi presiden pada tahun 1969, pembangunan dimulai dengan menghutang pada lembaga internasional yang sebelumnya jelas-jelas ditolak soekarno. hutang yang diberikan oleh lembaga internasional yang jelas-jelas berada dibawah negara kapitalis, tentunya tidak mau dengan begitu saja memberi hutang tanpa imbalan, lewat bunga dan juga kebijakan atau bahkan sistem ekonomi yang harus diterapkan oleh rezim yang baru berdiri. pembangunanisme (developmentalisme) menjadi pilihan dimana soeharto memilih perubahan serta merta corak produksi bangsa indonesia yang berabad lamanya, dari sistem pertanian dan maritim menjadi industri. target menajdi industri ini di sokong besar-besaran dengan biaya hutang tadi dan mendirikan infrastruktur banyak, tetapi tidak menyiapkan manusia serta sistem dalam negrinya sehingga bangunan infrastruktur ini tetap lemah. tidak hanya dnegan hutang pembangunan industrialisasi ini juga dilakukan dengan mengundang investor ke indonesia dengan perjanjian yang sangat merugikan bangsa indonesia. ini dapat kita lihat dari perusahan asing yang ada, hanya menjadikan bangsa indonesia sebagai pekerja murah dan menambang hampir setiap jengkal kekayaan yang berada di dalam bumi indonesia.
kondisi ini berlanjut sampai keruntuhan rezim soeharto karena dilanda krisis ekonomi yang berasal dari negara tempat soeharto menghutang. layaknya kehidupan sehari-hari jika orang yang memberikan kita hutang lagi krisis akan berimbas pula pada kita, karena dia akan menagih atau menaikan bunga atau bisa juga dengan membuat hasil hutangannya pada kita tidak berguna, itulah yang terjadi dengan soeharto.
dia turun dengan pernyataan mengundurkan diri, namun menyisakan pekerjaan besar yang akan terus menjadi masalah pada masa berikutnya. harga-harga melambung, phk terjadi dimana-mana karena para investor pergi dengan segala alasan. dan semua yang buruk terjadi hari ini adalah warisan sejarah rezim tersebut, termasuk sebagian besar para politisi yang sekarang masih memimpin dan mengendalikan negara ini. alangkah buruknya jika begitu akibat yang ditinggalkan rezim soeharto, dan jika begitu, apakah lebih baik dizaman soeharto?….(cape deh ngomongin dia terus)
