oleh: jakfar
waktu di SD dalu ada sebuah mata pelajaran yang disampaikan oleh guru bahwa indonesia dilalui oleh dua musim. musim pertama adalah musim hujan dan kedua adalah musim kemarau. pada waktu itu saya merasa biasa-biasa saja dengan adanya dua musim tersebut, bahkan ketika guru saya memperbandingkan dengan belahan utara bumi yang dilalaui sampai 4 musim dan membuat mereka sulit keluar jika sedang musim dingin.
negri kita berada di garis khatulistiwa berarti di tengah agris bumi, begitu dia menyampaikan. dan banyak negri lain yang iri dengan negri kita kedua musim itu merupakan musim yang baik untuk bertani dan juga mencari ikan di laut, guru saya itu menambahkan.
jauh setelah itu, ketika umur saya lewat sedikit dari seperempat abad, saya kembali teringat akan musim yang ada di negri ini. apakah ini sebuah keuntungan atau malah kerugian? (sudah seperti pedagang saja karena menghitung untuk dan rugi). keteringatan ini bukan karena ingatan saya yang baik dan karena saya cerdas, tetapi karena ada gejala alam yang membuat saya teringat. setelah hijrah dan menjadi bagian dari kota yang paling besar di inodnesia (jakarta), yang setiap hari jalan dan sampai pada lorong-lorong pemukiman yang oleh pemerintah dianggap tidak layak dan ilegal (dulu saya berpikir yang ilegal itu hanya barang dari luar negri saja), barulah saya merasakan akibat dari dua musim yang dilalui ini.
dua musim yang menarik untuk dilihat dan kembali dicermati setelah lama berlalu dari ruang belajar. musim hujan yang berlangsung kurang lebih dari empat bulan. empat bulan yang menarik juga untuk dilalui dengans egala pernak-pernik mampu mencampuradukan pikiran, perasaan dan sampai emosi. asumsi saya bukan hanya yang bercampur baur itu tetapi hampir seluruh orang yang tinggal di jakarta.
menikmati jakarta setelah hujan reda, merupakan sebuah pengalaman yang menguji kesempurnaan kemanusiaan kita dan juga melihat watak asli masyarakat kota indonesia yang selalu terburu-buru dan tingkat individualisme yang sudah melibihi kadar, di tambah lagi sifet egois yang besar. kota jakarta setelah hujan merupakan gambaran nyata dari semua sisi kota dan juga pemikiran masyarakat dari tingkat atas sampai bawah, jika selama ini seringkali yang mendapatkan umpatan atas kekesalan hanyalah pemerintah yang tidak pernah berubah maka, setelah hujan saya sedikit mendapat alasan mengapa selama ini indonesia tidak bisa bergerak pada peradaban yang lebih baik untuk semua komponen