oleh jakfar
ibuku bilang aku terlahir pada tanggal 25 mei 27 tahun yang lalu, sebelum azan subuh berkumandang, dan dia bilang sangat gembira setelah aku lahir dengan selamat, lalu tangisan pertamaku menjadi penanda bahwa aku kelak akan bisa bersuara, sejelek apapun suara itu, lalu kakekku yang seorang islam memberiku nama yang dia comot dari nama seorang arab, yang jika pada waktu itu aku bisa protes maka aku akan protes dan lebih memilih nama dengan nuansa indonesia, namun aku hanya seorang bayi merah yang tidak memiliki kekuasaan atas diriku, namun membutuhkan kekuasaan yang bisa menumpahkan kasih sayang padaku.
layaknya nama yang diberikan tentu memiliki makna dan keinginan yang terpendam di dalamnya besar atau kecil makna nama itu tergantung bagaimana perjalanan berikutnya, begitu kakekku bilang jauh sebelum dia meninggal.
masa kecil yang berpindah dan selalu menarik untuk diingat.
sampai aku kelas 6 sd telah banyak tempat yang aku kunjungi dan menjadi tempat hidup bahkan tempat susah dan bahagia aku dapatkan. sampai akhirnya disebuah desa baru yang dibangun oleh soeharto di sudut daerah jambi aku tumbuh mendekati masa remaja dengan berbagai persoalan kemiskinan yang seolah menjadi teman akrab dalam perjalanan hidupku. baiknya aku bercerita dahulu tentang kesusahan yang pernah aku alami sebelum akhirnya aku terlempar jauh ketanah kerajaan melayu jambi.
yang aku ingat perpindahan yang mengesankan dan perkelahian masa kecil.
pada kelas 3 sd di sudut sumatera barat, ayahku tiba-tiba menjual rumah tempat aku lahir pada hal baru 3 tahun aku kembali kerumah kelahiran setelah dibawa merantau ke tanah batak dan juga tanah melayu deli bernama kota medan. tiga tahun yang panjang itu memberikan banyak pengalaman bagiku karena secara tidak langsung aku kembali belajar bahasa ibu yang tidak aku kenal sejak lahir sebab waktu tinggal di tanah batak dan melayu di medan bahasa setiap hari yang dipergunakan di rumah adalah bahasa indonesia dengan logat medan. tiga tahun di sudut sumatera barat, membuat aku dekat sekali dengan masyarakat tani yang merupakan budaya dan corak produksi asli masyarakat indonesia, yang pada akhir masa kolonial bergerak kearah corak industri namun tetap mengandalkan basis pertanian sebagai basis paling utamanya.
pindah tempat mencari hidup dan meneruskan tarikan nafas ternyata tidaklah menghilangkan atau menjauhkan aku dari corak asli masyarakat indonesia tersebut, sebab tanah riau ketika pertama kali aku datang masih berupa belantara dan orang hidup dari pertanian serta sunagai yang besar, karena sungai tidka pernah minta dirawat namun tetap memberikan hasil. di tepian sungai rokan kiri ayahku memulai kehidupan kami setelah pindah dari pasaman. bertani adalah pilihan pertamanya untuk memnuhi kebutuhan hidup, lalu ayahku juga menarik becak di pasar ujung batu untuk memenuhi kebutuhan lainya, bahkan ayahku pernah menjadi pencari pasir di sungai rokan kiri namun karena harus mengayuh sampan dan menyelam akhirnya ayahku hanya fokus pada pertanian dan becak yang dulu dimilikinya telah terjual.
di tempat ini kenakalanku meningkat dan nilai raport sekolahku anjlok karena harus menyesuaikan bahasa yang tidak aku pahami sebelumnya, di tempat baru ini aku juga hampir setiap hari berkelahi pada hal ketka tinggal di sumatera barat aku jarangs eklai berkelahi kecuali dengan seoranga anak yang hari ini aku tahu telah meninggal. berkelahi menjadi sebuah kebiasaan karena aku telah menjadi anak nakal dan setiap hari hanya bermain di tepian suangai besar untuk berenanag dan mencari udang.
aku lompat jauh kedepan dan melewatkan banyak tempat yang memiliki sejarah bagiku dan suatu saat akan aku kunjungi.
semester tiga kuliah di sebuah kota kecil padangpanjang. ayahku tiba-tiba menelpon dan bilang tidak lagi bisa untuk mengirim uang kuliah. akus ampaikan hal itu pda teman-teman yang biasa berdiskusi msalah kemiskinan denganku (waktu itu ada sebuah kelompok diskusi yang kita buat bernama AKAR) lalu mereka menawarkan sebuah solusi untuk tetap kuliah dan memenuhi hidup dengan cara hidup saling memenuhi, dan samapi sekarang aku memiliki utang besar terhadap banyak kawan tersebut, karena mereka mengajarkan bagaimana melawanan kemiskinan yang dibuat oleh negara dan rakyat yang didalamnya terdapat aku dan banyak lagi telah termiskinkan dengan sangat rapi, bahkan akdang kala menganggap ini sebuah takdir, lalu aku berpikir bahwa takdir historis orang miskin jugalah untuk merubah keadaan, karena tidak ada kelas yang dengan rela menyerahkan sebagian kekuasaan dan miliknya pad akelas lain, dengan kesadaran itu aku menjadi lebih percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin, namun tentunya tetap memiliki syarat untuk melaksanakannya….. (bersambung)…
