di indonesia banyak seniman yang alergi membicarakan politik, padahal mereka sendiri melakukan aktifitas politik setiap harinya bahkan banyak karya yang secara sengaja atau tidak berbau politik. ketidak inginan terpengaruh oleh plitik ini banyak terjadi di masa orde baru yang kemudian menularkannya sampai sekarang.
di bawah ini saya ingin mencoba melihat seberapa besar pengaruh seni atau berapa banyak kesenian di jadikan sebagai media politik untuk media penyadaran rakyat terutama dimasa penjajahan kolonial belanda dan jepang.
sebelum tulisan ini sampai pada itu ada sebuah cerita perdebatan saya waktu masih di kuliah dahulu dengan seorang dosen yang menginginkan seni hanya menjadi penyaji keindahan tanpa embel-embel politik.
dosen saya itu kebetulan mengajar estetika yang dimulai dengan estetika obyektif dan subyektif, lalu kami sampai pada kenyataan bagaimana hubungan seni dengan politik dan apakah perlu kesenian itu berpolitik? dengan akal sempitnya dosen saya tersebut tidak setuju jika kesenian itu berpolitik karena kesenian itu berada di tengah dan tidak memihak pada apapun (alias bebas nialai katanya), waktu itu saya berpikir apakah kesenian harus menjadi seni untuk seni, seperti yang pernah terjadi di francis (di francis aja tesis ini kemudian di berontak dan tidak lagi berlaku). mengapa di indonesia yang sudah sampai pada tahun 2000 an atau abad 21 dosen saya ini masih saja ingin membuat seni untuk seni. dalam hati saya bergumam , ah dasar didikan orde baru (tapi saya juga didikan orde baru), jika berbau politik sedikit sudah alergi.
itu cerita yang terjadi pada saya yang saat masih kuliah di salah satu institusi seni di sumatera barat.
jauh sebelum kejadian yang saya alami bersama dosen saya tersebut, telah terbit sebuah novel modern di hindia belanda (waktu itu belum ada indonesia) dengan judul student hijo karya salah satu bumi putra bernama mas marco, lalu juga hadir novel dengan judul hikayat khadiroen karya semaun. kedua karya ini memiliki semangat politik dan juga semangat pembebasan bumi putra dari tangan penjajah, setelah dua novel yang memiliki semangat pembebasan dan juga bernilai pendidikan politik di dalamnya, kemudian banyak lahir karya-karya baik itu berpa puisi dan juga novel yang berisikan semangat pendidikan politik untuk rakyat yang memiliki nilai nasionalisme.
semangat nasionalisme seni ini kemudian juga mendapat penegasan ketika berlangsung sumpah pemuda, sebuah lagu yang diciptakan wr supratman menjadi lagu kebangsaan sampai hari ini.
kemudian masih ada lagi gerakan kesenian yang kental dengan nuansa politis yaitu lahirnya sebuah persatuan gambar pertama di indonesia, kelompok ini berkecimpung dalam gerakan rakyat untuk kemerdekaan indonesia bahkan dengan menegaskan posisi mereka terhadap kesenian yang berbau kolonial dan juga kebijakan kolonial, kelompok seringkali menyindir para perupa indonesia yang hanya membuat karya berbau keindahan alam dengan sebuatan indie moy (hindia elok), karena menurut mereka indonesia tidak hanya keelokan alamnya namun ada penjajahan yang terjadi didalamnya.
bergerak pada dekade berikutnya, sebelum kemerdekaan benar-benar kita dapatkan (kemerdekaan berdasarkan faktor dalam dan luar), kesenian menajdi media yang sangat efektif untuk membangkitkan kesadaran dan keingnan rakyat untuk berjuang bersama mengusir penjajah, sebagai contoh sajka-sajak chairil anwar yang terus membakar para pejuang dan rakyat ketika itu, lalu ditambah dengan poster hasil kelincahan tangan afandi hampir setiap saat bisa hadir di gang dan sepanjang jalan.
setelah kemerdekaan datang apakah seni berhenti untuk menajdi media politik dengan berbagai aliran politik yanga da di indonesia?
jawabnya tentu tidak karena masih ada dua kutup yang bersiteru untuk menjadi media penyadaran bagi rakyat, dua kutup ini bernama manikebu dan lekra. manikebu dengan humanisme universalnya dan lekra yang selalu di tuduh menjadi organisasi budaya sayap PKI dengan realisme sosialismenya.
pertarungan itu berakhir ketika peristiwa 1965 yang mebawa banyak korban dan menajdi salahsatu tragedi kemanusian paling besar dalam sejarah bangsa indonesia.
lalu setelah itu masihkah ada kesenian dalam percaturan politik indonesia?
jawabnya masih. pada tuhun 1970an ada sebauh kelompok yang menamakan dirinya gerakan desember hitam yang merukan gabungan dari berbagai keompok seni yang ada di jakarta, bandung, dan yogyakarta. para seniman ini ikut bahu mebahu dalam proses penyadaran politik rakyat yang mereka anggap telah disalah jaankan oleh orde baru. namun yang mereka protes tidak hanya itu melainkan keberadaan seniman yang lebih tua yang hanya tunduk pada rezim.
setelah gerakan ini masih banyak keikutsertaan seni dalam proses politik di inonesia sampai pada hari ini.
saya kembali teringat ketakutan dosen tadi terhadap banyaknya pengaruh politik dalam seni, merupakan ketakutan yang sedikit tidak melihat sejarah seni di indonesia bahkan dunia, karena kesenian hadir beriring dengan kondisi realitas yang ada dalam masyarakat. jika masyarakatnya banyak melakukan kasak-kusuk politik ini tentunya akan terlihat pula dalam kesenian, karena sejauh apapun semian terpisah dari masyarakat seperti yangbanyak terjadi hari ini dia akan tetap bagian dari masyarakat.
politik seni atau terkaitnya seni dengan politik bukanlah hal baru sejarah perkembangan peradaban telah mencatatnya sebagai bagian yang tidak terlepas dalam arti tidak ada sesuatu yang bebas nilai seperti harapan dosen saya yang mengajarkan estetika seni tersebut.
politik seni; duduk bersama rakyat
Juni 7, 2008 oleh fauvis